Tuhan membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing. Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun dibawah langit ada waktunya. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaanNya dari awal sampai akhir...

Senin, 06 April 2020

Untuk Dia, Pemimpi Itu...


“ Tidak ada yang lebih mempesona daripada tingginya impian seorang laki-laki dan kerasnya tekad untuk meraih itu.
Aku perlu kamu, lelaki dengan hati sekuat baja dan setegar batu karang. Aku ingin hidup dengan pemimpi, sebab aku juga seorang pemimpi. Bagaimana kita membedakan batas mimpi dan realita? Karena kamu membuat semua terlihat jelas dan impianku terasa begitu nyata. Aku, seorang pemimpi yang kini tinggal pada impian pemimpi lain secara sadar (Lucid dream).


Aku hanya memperhatikanmu dari jauh. Namun, hampir tidak pernah kita melewatkan satu hari pun tanpa saling berbagi kisah satu sama lain. Merugi aku, jika kehilangan moment mendengarmu. Cara tertawamu juga aksenmu. Ah, aku begitu mencintainya. Dimulai ketika pertama kali kamu menelponku, aku menantinya. Ya, menanti untuk mendengar kamu lagi. Sejak saat itu, kisahmu adalah cerita paling menarik bagiku.

Masih menjadi misteri bagiku tentang bagaimana bisa Tuhan membuat aku mengenalmu. Aku tidak perlu bilang padamu seberapa sering aku meminta padaNya. Aku menjalani hari-hari dengan berharap. Aku melewati kisah demi kisah yang tidak indah tentu saja. Tahukah kamu, diantara banyaknya tangisan, keluhan, rasa sakit dan pengalaman tidak menyenangkan yang kualami sebelumnya. Kamu datang. Kamu seperti hadiah besar yang Tuhan sediakan bagiku.

Aku ingat beberapa kisah yang kamu utarakan tentang hidupmu. Kamu berjuang begitu keras sampai hari ini. Aku bangga padamu. Ayahmu di surga juga pasti bangga.

Betapa luasnya dunia ini. Lalu, seperti apa kita memaknai hidup yang singkat dengan kemampuan terbatas? Yaitu dengan menjadi diri sendiri dan mencari tahu apa yang benar-benar kita inginkan dalam hidup. Dimana kita sekarang adalah hasil pemikiran panjang dari pertanyaan, “apa yang benar-benar aku inginkan dalam hidupku?.” Kamu tahu persis dimana kamu sekarang dan kemana kamu akan menuju. Itu yang membuat kamu berbeda. Aku tidak katakan bahwa impianmu itu mudah. Aku tahu ini masih langkah awal menuju kesana. Tetapi aku percaya padamu.
Hei kamu pemimpi besar, syukurlah kamu tidak menyerah. Sebab langkah demi langkah yang kamu lewati kadang membuatmu terperosok dan lemah. Kamu memang lebih banyak tersenyum, menonjolkan lesung pipi indahmu untuk menampik semua ketakutan dan keraguan mereka. Meskipun tetap saja tidak akan cukup menghipnotis mereka terlalu lama. Aku tahu kamu lelah untuk meyakinkan orang-orang terdekat bahwa hidup yang kamu jalani sekarang adalah baik-baik saja. Aku juga tahu seberapa banyak dari mereka yang awalnya dengan lantang berkata akan berjalan bersamamu lalu kemudian perlahan mundur meninggalkanmu. Aku tahu sakitnya percaya lalu kemudian dikhianati. Terima kasih, kamu tidak pernah kehilangan senyuman itu.

Kamu adalah pemuda masa depan itu. Aku tidak perlu mengambil contoh lain tentang anak-anak muda yang kelihatannya sukses, kaya raya dengan segudang prestasi akademik lainnya. Itu sangat tidak adil. Karena kamu diciptakan unik dengan kelebihanmu sendiri. Kamu mau tahu apa kelebihanmu bagiku? Kamu bertahan sampai hari ini, kamu mengasihi Tuhan, kamu menghargai hidupmu dan kamu perduli pada orang lain itu kelebihanmu. Prestasi yang dilihat oleh mata manusia itu menipu, aku tidak mengharapkannya, tetapi sesuatu yang ada dihatimu. Aku menyukainya. Bahkan kalau pun orang lain menganggap itu biasa saja, bagiku tidak. “Aku harap aku bisa mengenalmu sekarang dan dimasa depan.” Lelaki yang mempesonaku dengan impiannya.

2 komentar:

riyanelitz@gmail.com mengatakan...

Karyanya sungguh menginsipirasi kak, lanjut terus menulis :)

Rafika mengatakan...

rangakaian kata yang indah kak, dan tentu saja memberkati dengan setiap sudut kalimat yang memotivasi. Semangat kak