“ Tidak ada yang lebih mempesona daripada tingginya impian seorang laki-laki dan kerasnya tekad untuk meraih itu.
Aku perlu kamu, lelaki dengan hati sekuat baja dan
setegar batu karang. Aku ingin hidup dengan pemimpi, sebab aku juga seorang
pemimpi. Bagaimana kita membedakan batas mimpi dan realita? Karena kamu membuat
semua terlihat jelas dan impianku terasa begitu nyata. Aku, seorang pemimpi
yang kini tinggal pada impian pemimpi lain secara sadar (Lucid dream).
Aku hanya memperhatikanmu dari jauh. Namun, hampir
tidak pernah kita melewatkan satu hari pun tanpa saling berbagi kisah satu sama
lain. Merugi aku, jika kehilangan moment mendengarmu. Cara tertawamu juga
aksenmu. Ah, aku begitu mencintainya. Dimulai ketika pertama kali kamu
menelponku, aku menantinya. Ya, menanti untuk mendengar kamu lagi. Sejak saat
itu, kisahmu adalah cerita paling menarik bagiku.
Masih menjadi misteri bagiku tentang bagaimana bisa
Tuhan membuat aku mengenalmu. Aku tidak perlu bilang padamu seberapa sering aku
meminta padaNya. Aku menjalani hari-hari dengan berharap. Aku melewati kisah
demi kisah yang tidak indah tentu saja. Tahukah kamu, diantara banyaknya
tangisan, keluhan, rasa sakit dan pengalaman tidak menyenangkan yang kualami
sebelumnya. Kamu datang. Kamu seperti hadiah besar yang Tuhan sediakan bagiku.
Aku ingat beberapa kisah yang kamu utarakan tentang
hidupmu. Kamu berjuang begitu keras sampai hari ini. Aku bangga padamu. Ayahmu
di surga juga pasti bangga.
Betapa luasnya dunia ini. Lalu, seperti apa kita
memaknai hidup yang singkat dengan kemampuan terbatas? Yaitu dengan menjadi
diri sendiri dan mencari tahu apa yang benar-benar kita inginkan dalam hidup.
Dimana kita sekarang adalah hasil pemikiran panjang dari pertanyaan, “apa yang benar-benar aku inginkan dalam hidupku?.” Kamu tahu persis dimana kamu sekarang dan
kemana kamu akan menuju. Itu yang membuat kamu berbeda. Aku tidak katakan bahwa
impianmu itu mudah. Aku tahu ini masih langkah awal menuju kesana. Tetapi aku
percaya padamu.
Hei kamu pemimpi besar, syukurlah kamu tidak
menyerah. Sebab langkah demi langkah yang kamu lewati kadang membuatmu
terperosok dan lemah. Kamu memang lebih banyak tersenyum, menonjolkan lesung
pipi indahmu untuk menampik semua ketakutan dan keraguan mereka. Meskipun tetap
saja tidak akan cukup menghipnotis mereka terlalu lama. Aku tahu kamu lelah
untuk meyakinkan orang-orang terdekat bahwa hidup yang kamu jalani sekarang
adalah baik-baik saja. Aku juga tahu seberapa banyak dari mereka yang awalnya
dengan lantang berkata akan berjalan bersamamu lalu kemudian perlahan mundur
meninggalkanmu. Aku tahu sakitnya percaya lalu kemudian dikhianati. Terima
kasih, kamu tidak pernah kehilangan senyuman itu.
2 komentar:
Karyanya sungguh menginsipirasi kak, lanjut terus menulis :)
rangakaian kata yang indah kak, dan tentu saja memberkati dengan setiap sudut kalimat yang memotivasi. Semangat kak
Posting Komentar